Senin, 05 Desember 2016

8 Daya Tarik Sasando, Souvenir dari Pulau Komodo Pulau Rote

Sasando, souvenir atau oleh-oleh jika berkunjung ke Pulau Komodo atau umumnya jika berkunjung ke Propinsi Nusa Tenggara Timur. Pergi wisata tidak lengkap rasanya jika tidak membawa sesuatu sebagai kenang-kenangan dari tempat yang telah dikunjungi. Masa jauh-jauh pergi ke suatu tempat tidak membawa apa-apa, apalagi berkunjung ke Komodo National Park mempunyai banyak daya tarik.

Info wisata baca disini 5 Tempat Wisata di Pulau Komodo Paling Banyak di Kunjungi

Sebenarnya banyak sekali oleh-oleh yang bisa dibawah pulang dari wisata ke Pulau Komodo, seperti miniatur ukiran bintang purba komodo itu sendiri, kain tenun daerah ini atau topi khas membentuk oval itu sangat terkenal, tapi untuk info kali ini kami pilih alat musik tradisional dari Pulau Rote yaitu Sasando.

Walau Sasando bukan tepat berasal dari daerah ini tapi masih bisa ditemui di daerah ini terutama daerah Labuan Bajo dan sekitarnya. Karena alat musik ini juga sudah sangat populer di NTT.

Sebelum memutuskan membeli oleh-oleh alat musik tradisional ini akan lebih baik ketahui dulu seluk-beluk segala sesuatu mengenai sasando, supaya lebih yakin dan lebih cinta.

Sasando
Sasandi
image source: tokopedia.com

8 Daya Tarik Alat Musik Sasando


1. Arti Nama Sasando
Nama Sasando berasal dari kata Sasandu berasal dari bahasa Rote mempunyai arti bergetar atau berbunyi.

2. Kelompok Jenis Sasando
A. Sasando gong
Sasando gong dikenal di Pulau Rote, mempunyai nada pentatonik, biasa dimainkan dengan irama gong dan dinyanyikan dengan syair khas Pulau Rote. Sasando jenis ini berdawai 7 buah atau 7 nada kemudian berkembang menjadi 11 dawai.

Dapat dibedakan lagi menjadi yang berlaras tinggi dan berlaras rendah.
- Laras tinggi/pelok :5 7 1 3 4 5 (nada 7 cenderung berbunyi 7)
– Laras rendah/slendro: 3 5 6 1 2 (nada 3 cenderung berbunyi 3)

B. Sasando biola
Sasando biola merupakan sasando telah mengalami perkembangan dengan nada diatonis. Adapun bentuk sasando biola sekilas mirip sasando gong namun mempunyai diameter bambu lebih besar. Sasando jenis ini
mulai berkembang pada abad ke-18. Sasando biola karena menyerupai nada biola dengan 30 nada kemudian berkembang menjadi 32 dan 36 dawai.

Dapat dibedakan lagi menjadi 3 jenis.

model 1
Dawai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
G al gl fl bes1 bl c2 d2 e2 f2 fis2 g2 a2 b2 c3 d3 e3 f3 dis2
20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32
Cis2 gis2 fis2 el dl cl b a g f e d c kecil

Model 2
Dawai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
Ggl fisl fl besl b2 c2 d2 e2 f2 fis2g2 a2 b2 c3 d3 e3 f3 dis2
20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32
Cis2 gis2 al el dl cl b a g f e d c kecil

Model 3
Dawai 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19
Ggl fl fisl besl b2 c2 d2e2 f2 fis2 g2a2 b2 c3 d3 e3 f3 dis2
20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32
Cis2 gis2 al el dl cl b a g f e d c kecil

C. Sasando Elektrik
Sasando elektrik umum mempunyai 30 dawai dan merupakan pengembangan dari sasando biola diberi sentuhan teknologi. Sasando jenis ini diciptakan oleh Arnoldus Eden, seorang musisi sasando dan telah mendapat piagam penghargaan oleh Gubernur Nusa Tengara Timur tahun 2008.

3. Asal Alat Musik Sasando
Seperti sudah dijelaskan di atas sasando berasal dari Pulau Rote Nusa Tengara Timur. Sebelah Selatan Kota Kupang. Sebenarnya masih jauh dari Labuan Bajo yaitu daerah dekat Pulau Komodo, tapi masih satu Propinsi dengan Nusa Tenggara Timur, dengan begitu oleh-oleh juga masih sama.

4. Awal Ditemukan Alat Musik Sasando
Awal ditemukan alat musik sasando tidak terlepas dari sejarah sasando itu sendiri. Ada beberapa versi yang menceritakan awal ditemukan alat musik ini kami kutip dari kebudayaan.kemdikbud.go.id/, mana yang benar kami juga kurang paham, berikut kutipannya.

> Versi Sangguna
Berawal dari seorang pemuda bernama Sangguana diperkirakan sekitar tahun 1950 terdampar di Pulau Ndana saat saat dia berlayar, selanjutnya dibawa oleh penduduk setempat menghadap raja ke istana.

Ternyata Sangguna mempunyai keahlian dalam bidang seni, sampai sang putri senang sama Sangguna. Sehingga diminta Sangguana membuat alat musik  bagus yang belum pernah ada.

Suatu malam Sangguana bermimpi dia sedang memainkan alat musik indah bentuk maupun suara indah. Dari mimpi tersebut Sangguana menciptakan alat musik diberi nama Sandu.

Ketika sedang memainkan Putri bertanya, 'lagu apa yang dimainkan?'.  Jawab Sangguana 'Sari Sandu'. Selanjutnya alat musik tersebut diberi nama Sang Putri kemudian dinamakan Depo Hitu artinya sekali dipetik tujuh dawai bergetar.

> Versi Luminang dan Balialang
Ketika menggembala bersama, domba mereka membawa sehelai daun lontar. Saat siang hari, mereka melipat daun lontar tersebut untuk menimba air. Untuk melipat bagian tengah daun harus dibuang dan ketika hendak melepas tali jadi kencang. Tanpa sengaja, ketika ditarik keras menimbulkan bunyi nada berbeda-beda. Tetapi karena sering terputus, mereka berdua lalu mencungkil lidi-lidi tersebut.

Mereka mulai mengerti dan menemukan jika dikaitkan rapat akan menimbulkan nada tinggi dan sebaliknya jika dikaitkan renggang akan menghasilkan nada rendah.

> Versi Lunggi dan Balok Ama Sina
Lunggi dan Balok Ama Sina dua orang sahabat penggembala domba sekaligus. Ketika sedang membuat haik dari daun lontar antara jari-jari dari lembaran daun terdapat benang, apabila ditarik menimbulkan bunyi. Dari pengalaman ini muncul ide untuk membuat suatu alat musik petik yang dapat meniru bunyi yang terdapat pada gong. Dengan cara di congkel tulang daun lontar lalu di ganjal dengan kayu. Karena suara kurang bagus lalu kayu diganti dengan bambu.

> Versi Pupuk Soroba
Pada saat Pupuk Soroba menyaksikan seekor laba-laba besar sedang memainkan jaring sampai terdengar alunan bunyi indah. Berdasarkan pengalaman tersebut Pupuk Soroba ingin menciptakan alat yang dapat mengeluarkan bunyi indah. Awalnya Pupuk Soroba mengambil lidi daun lontar mentah lalu ganjal dan dipetik. Baru kemudian bambu dipasang pada haik terbuat dari daun lontar dan senar.

5. Sasando Menghibur Keluarga Sedang Berduka
Sasando atau sasandu  orang Pulau Rote sering menyebutnya, berarti alat yang bergetar atau berbunyi dimainkan dengan cara dipetik. Sasando sering dimainkan untuk mengiringi nyanyian, syair,tarian tradisional untuk upacara adad, keseharian, menghibur  keluarga sedang berduka. Pada saat ini, Sasando sudah menyebar peminatnya sudah banyak di daerah lain selain di Pulau Rote seperti di terdapat di daerah Kupang dan daerah dalam Propinsi Nusa Tenggara Timur.

6. Telah Dimainkan Sejak Abad ke-7
Menurut kabar alat musik sasando ini telah digunakan di kalangan masyarakat Pulau Rote sudak sejak abad ke-7. Alat musik yang mirip dengan alat musik petik lain yaitu gitar, biola, dan kecapi tapi soal bunyi sasando berbeda memiliki bunyi merdu yang khas.

7. Bahan Sasando
Sasando terbuat dari daun lontar dan bambu. Sedangkan dawai terbuat dari kawat halus seperti senar string. Sasando harus dirawat secara rutin, karena setiap lima tahun sekali daun lontar harus diganti,  daun lontar ini jamuran kalau sudah terlalu lama.

Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjal, untuk bertumpu senar (dawai) di bentangkan pada tabung dari atas kebawah.

Ganjal ini membuat nada berbeda pada setiap petikan salah satu senar jika sedang dimainkan. Tabung sasando ini ditempatkan dalam sebuah wadah terbuat dari semacam anyaman daun lontar dibuat seperti kipas.

Itu tadi bahan dasar Sasando yang masih tradisional. Lain lagi bahan dasar sasando elektik.

Lihat berikut ini
Sasando elektrik tidak  lagi menggunakan bahan atau wadah dari daun lontar. Hal itu sebab tidak membutuhkan ruang resonansi sehingga bunyi yang dihasilkan tidak seperti sasando tradisional.

Sasando tradisional hanya dapat didengar oleh orang di sekeliling pemain, sedangkan sasando elektrik jangkauannya lebih luas karena sudah dapat dihubungkan dengan alat pembesar suara.

8. Memainkan Sasando
Sasando adalah alat musik petik sama dengan gitar dan kecapi dan lainnya, bedanya Sasando dimainkan tanpa chord (kunci). Senar dipetik dengan kedua tangan dari arah berlawanan. Dari ke kiri ke kanan dan kanan ke kiri. Tangan kiri memainkan melodi dan bas, sementara tangan kanan memainkan accord.

Sasandu dapat menghasilkan lima nada, nada C (do), D (re), E (mi), G (sol), A (la) dalam tangga nada dikenal dengan tangga nada Slendro. Dawai Sasando mengikuti perkembangan gong, yaitu dari 7 buah, berkembang menjadi 9 buah dan terakhir 10 buah.

Pemain sasando yang baik dapat mengatur jari tengah kiri dan kanan tidak mengikuti petunjuk pada umumnya, tapi disesuikan dengan keahlian dan kelincahan jari mereka. Pemain dapat memainkan 3 irama yaitu, melodi, rithim dan bas. Posisi jari kiri memetik bas dan melodi, jari kanan memainkan accord.

Sasando adalah alat musik tradisional khas dari Pulau Rote, untuk dijadikan oleh oleh setelah berkunjung ke Pulau Komodo atau ke Nusa Tenggara Timur.

Oleh-oleh lain tidak kalah unik lihat disini 10 Cerita dan Makna Topi Ti'i Langga Topi dari Pulau Rote
Ada juga souvenir lain yang sudah lebih dahulu terkenal yaitu kain tenun khas NTT

Demikian tadi dua pilihan souvenir jika berkunjung ke NTT. Sasando dapat dimainkan sebagai pengiring lagu atau buat pajangan. Semoga bermanfaat.


EmoticonEmoticon